Cerita Disney Rickie Lambert.
Tanggal 14 agustus menjadi hari yang
bersejarah bagi Rickie Lambert. Pria berusia 31 tahun ini melakukan
debut di timnas Inggris. Tidak sampai situ juga, Rickie turut mencetak
gol lewat tandukan dalam debutnya ini sekaligus penentu kemenangan
Inggris atas Skotlandia. Bagi Rickie kejadian-kejadian tersebut bak
cerita Disney,saat mimpi menjadi kenyataan dan memiliki akhir yang
indah. Rickie mungkin menjadi jawaban atas tumpulnya lini depan Inggris
yang selama ini hanya bertumpu pada Wayne Rooney.

Terkait pemanggilanya yang terkesan
terlambat,hal ini menjadi contoh bahwa banyak pemain bagus namun tidak
mendapat kesempatan untuk membela timnas negaranya sendiri. Kita tahu
banyak kritik mengenai sosok Roy Hodgson dalam pemanggilan pemain.
Bahkan seorang Grant Holt pun bersuara bahwa mustahil dirinya dipanggil
ke timnas Inggris kalau ia bermain di tim medioker macam Norwich.
Padahal pada musim 2011/12 Holt menjadi pria inggris tersubur kedua
dibawah Rooney dengan 15 gol. Sayangnya dirinya tetap tidak dibawa
Hodgson ke Euro 2012.
Hal yang sama terjadi pada Rickie musim
berikutnya. Bersama Frank Lampard, ia menjadi sosok lokal tersubur
dengan 15 gol. Bandingkan dengan Rooney yang hanya 12 kali menceploskan
bola ke gawang. Meskipun begitu panggilan belum juga datang, hingga
akhirnya pada 8 agustus dia menerima panggilan ke timnas senior dan 6
hari kemudian tampil perdana dan mencetak gol.

Kisah Rickie Lambert ini harusnya menjadi
panutan bagi pelatih-pelatih timnas mancanegara untuk selalu
memperhatikan talenta lokal yang bersinar, baik di tim medioker ataupun
negara luar. Contoh paling mudah bisa dilihat dari Mikel Arteta. Sosok
kunci lapangan tengah Arsenal yang merupakan jebolan akademi La Masia
ini belum pernah sama sekali membela timnas Spanyol senior, meskipun
cukup sukses era junior. Santi Cazorla yang notabene rekan setim di
Arsenal, sampai merasa heran mengapa Arteta tidak dipanggil ke timnas
senior meskipun menunjukan performa cemerlang di EPL.
Anomali bursa transfer BPL
Masa jeda antar musim mungkin menjadi saat
yang ditunggu penggemar sepak bola. Masa dimana persiapan tim menjelang
musim berikutnya dilakukan. Terutama untuk masalah transfer antar
pemain. Hal ini terjadi juga di inggris, negeri yang dianggap sebagai
asal dari sepak bola ini selalu menarik untuk dilihat bursa transfernya.
Pergerakan tim-tim papan atas seperti duo Manchester,
Chelsea,Arsenal,dll selalu ditunggu oleh penikmat sepak bola.
Manchester City masih menjadi tim yang
jor-joran dalam bursa transfer ini, tak kurang dari tiga nama dibeli
oleh mereka, Jesus Navas, Stevan Jovetic,dan Alvaro Negredo. Tidak lupa
pemain asal Brazil Fernandinho yang dihargai 30 juta pounds. Uniknya
transfer tim besar lain terkesan adem ayem. Chelsea saat ini ‘baru’
membeli dua pemain, Andres Schurrle dan wonderkid Belanda Marko van
Ginkel. Sementara Arsenal dan Man.Utd masing-masing mendapat wonderkid
dari dua tim finalis Piala Dunia U-20, Yaya Sanogo (Prancis) dan Varela
(Uruguay).
Banyak pemain yang dianggap punya ‘Nama’
namun cenderung bergabung dengan tim-tim diluar 6 besar musim lalu.
Nama-nama seperti Fernando Amorabieta & Stekelenburg yang bergabung
dengan Fulham, disusul oleh top skor Liga Belanda musim lalu,Wilfried
Bony, yang menuju Swansea City.
Sunderland dan Norwich tak luput menjadi buah
bibir di musim panas ini. Sunderland dengan pelatih anyar Paolo Di
Canio berhasil memboyong penyerang asal Amerika Serikat, Jozy Altidore,
dari klub Liga Belanda AZ dan sayap mungil nan lincah dari Juventus,
Emanuele Giaccherini. Norwich City merekrut penyerang Belanda Ricky van
Wolfwinkel dari Sporting Lisbon dan Leroy Fer dari Twente. Jangan
lupakan juga nama-nama seperti wonderkid dari La Masia, Gerard Deulofeu
yang dipinjamkan ke Everton, serta rekan setim-nya di Barca B, Marc
Muniesa, yang menuju Stoke. Victor Wanyama dan Dejan Lovren menjadi yang
berikutnya dengan memilih Southampton.
Banyak yang mempertanyakan alasan mereka
memilih tim tersebut,kita tahu Victor Wanyama adalah incaran Man.Utd
sejak lama namun malah bergabung dengan Southampton. Uang mungkin
bukan,karena rata-rata tim tersebut berkondisikan keuangan menengah.
Alasan paling rasional adalah waktu bermain. Mereka pergi ke Premier
League tentu bukan sekedar ingin menjadi penghangat bangku cadangan.
Bermain di kompetisi yang disebut terbaik di dunia serta kompetitif
tentu akan menambah jam terbang mereka.
Menurut saya pribadi, alasan mereka memilih
klub yang dianggap medioker adalah agar tidak terkena tekanan pers.
Sudah sejak lama pers Inggris dikenal keras dengan sering menyorot
kondisi pemain baik di lapangan maupun di luar lapangan. Kita tahu kalau
Luiz Suarez berujar bahwa ia muak dengan pers Inggris yang selalu
menyuarakan kritik tajam kepada dirinya. Contoh lain adalah bagaimana
pers di sana mengkritik performa dari Samir Nasri yang hanya menjadi
cadangan mahal di Man.City dan Andy Carroll semasa di Liverpool. Mungkin
itu sebabnya mereka memilih klub medioker agar terbebas dari tekanan
pers terhadap form permainan mereka sendiri saat kompetisi berlangsung.
Satu hal yang menjadi harapan saya, semoga
dengan bergabungnya mereka ke tim di luar 6 besar dapat membuat Liga
Inggris lebih kompetitif lagi,dengan merusak dominasi klub asal
Manchester dan London di papan atas sehingga para penonton dapat
terhibur.
Perkembangan sepakbola Singapura.
Singapura adalah Raja Sepakbola ASEAN.
Ya, itu adalah perkataan dari beberapa pandit sepakbola setelah
Singapura menjadi juara Piala AFF 2012. Gelar itu menjadi gelar mereka
yang ke-4 atau yang terbanyak di jajaran negara ASEAN. Usut punya
usut,ternyata semua kesuksesan Singapura itu berawal dari program
pengembangan yang diprakarsai Chris Chan.
Pada tahun 1997, Chris yang kala itu menjabat
sebagai CEO dari Liga Sepakbola Singapura mencetuskan program Goal
2010. Singkat kata program ini bertujuan untuk meloloskan Singapura ke
Piala Dunia 2010.
Karena Singapura tidak memiliki sumber daya
manusia yang mencukupi, mereka pun mengambil pemain dari luar. Tujuan
utama dari Liga Sepakbola Singapura atau S-League adalah untuk menjaring
pemain-pemain yang potensial dari luar negeri.
S-League pun mengutamakan pemain dari Afrika
maupun Eropa belahan timur yang memiliki penghasilan tidak terlalu besar
dan mau digaji maksimal sekitar 25 juta rupiah per bulan.
Semua pemain ini akan ditawarkan menjadi
warga negara Singapura setelah lima tahun bermain di Singapura,tentu
saja pemain yang ditawari menjadi warga negara Singapura adalah pemain
yang dianggap meiliki potensi. Selain itu pada saat yang bersamaan
S-League juga mengembangkan pelatih dan pemain muda lainya untuk membina
dan dibina.
Hasilanya dapat kita ketahui sekarang ini.
Singapura menjadi raja ASEAN dengan pemain naturalisasinya sesuai
dengan rencana mereka di awal. Itimi Dickson dan Agu Casmir adalah
contoh pemain naturalisasi dari benua Afrika. Untuk benua Eropa Timur
muncul nama Mustafic Fachrudin serta Alexander Duric. Tidak lupa adanya
sosok Daniel Bennet dari Inggris dan Sho Jiayi dari China. Sebagai
tambahan, Daniel Bennet berkata bahwa ia kini merasa wajib menjadi
mentor untuk para pemain muda yang akan menjadi penerusnya di timnas.
Program Goal 2010 mungkin gagal membawa
Singapura lolos ke Piala Dunia 2010, tetapi rencanan mereka tidak pernah
dirombak sejak awal mula dicanangkan. Singapura dari tahun 1997 tetap
menggunakan program yang sama, bukan tidak mungkin suatu saat mereka
akan lolos ke Piala Dunia.
Kisah Singapura ini menunjukan satu hal,
bahwa perencanaan matang dan konsistensi program pasti akan membuahkan
hasil. Semoga saja hal ini menjadi pembelajaran bagi pihak-pihak
pengurus sepakbola Indonesia.
Duel Ikon El Classico Masa Depan
Dewasa ini dunia persepakbolaan seolah
terfokus pada pertarungan antara Cristiano Ronaldo dengan Lionel Messi.
Ikon dari Real Madrid dan Barcelona ini seolah bagaikan dua buah dewa
yang saling bertarung demi menjadi yang terbaik. Dengan reputasi
perseteruan antara klub mereka masing-masing, persaingan ini kian
meruncing.
Tapi, apakah bila sosok Ronaldo dan Messi
pensiun maka pertarungan dua ikon Madrid dan Barcelona berakhir? Menurut
saya tidak, kita lihat di Real Madrid Castilla dan Barcelona B. Dua tim
satelit yang bertarung di Liga Adelante atau divisi dibawah La Liga.
Terdapat sosok youngster yang dianggap sebagai reinkarnasi dari Ronaldo dan Messi,yakni Jese Rodriguez di Castilla dan Gerard Deulofeu di Barca B.

Hingga tulisan ini dibuat mereka berdua adalah pencetak gol terbanyak di tim mereka untuk Segunda Division.
Jese dengan 19 gol dan Deulofeu dengan 18 gol. Jese total berkontribusi
32% dari total gol Castilla,sedangkan Deulofeu dengan 27%.
Mereka berdua adalah pilar utama di lini
depan Spanyol u-19 saat menjuarai Piala Eropa u-19 juli tahun lalu. Jese
keluar sebagai pencetak gol terbanyak di turnamen dengan 5 gol,
termasuk hattrick-nya ke gawa Israel di penyisihan grup.
Sementara itu, meskipun hanya mencetak 2 gol, Deulofeu mencetak gol
vital di semifinal melawan Prancis dan menjadi pemain terbaik turnamen
tersebut.

Jese terkenal dengan kemiripan bermain dengan Ronaldo. Berposisi asli sebagai winger, namun dirinya menjadi sosok dengan gol terbanyak. Sama seperti Ronaldo di tim utama. Tendangan akurat dipadu dengan kecepatan dribble dan kemampuan individu yang yahud. Membuat pemuda yang tujuh tahun lebih muda dari Ronaldo ini sebagai calon bintang Real Madrid masa depan.

Pada sisi lain, Deulofeu dianggap sebagai mutiara La Masia yang siap untuk dipoles menjadi lebih baik. Deulofeu mengutamakan akurasi dribble dapadu dengan gaya bermain tiki-taka membuatnya disamakan dengan sosok Messi.
Menarik untuk menunggu kiprah mereka di saat
yang akan datang. Semoga saja ekpektasi publik yang tinggi dengan
membandingkan mereka dengan ikon di tim senior masing-masing tidak
membebani pikiran mereka. Tapi untuk itu, mereka harus membuktikan
kualitas mereka dulu dan menembus tim utama.
Inggris dan talenta di sektor tengah.
Sektor tengah disebut-sebut sebagai sektor
terpenting dalam sepakbola. Sektor ini menjadi panyambung antara sektor
pertahanan dan penyerangan. Dengan kata lain sektor ini menginisiasi
penyerangan dan juga bertindak sebagai lapisan pertama dalam bertahan.
Inggris, negara yang dikatakan sebagai pencipta sepakbola ini banyak
menelurkan talenta-talenta berbakat di lapangan tengah. Siapa yang tidak
tahu Paul Gascoigne,Paul Ince,Darren Anderton,Paul Scholes pada era
90-an hingga era saat ini yang berisi Frank Lampard,Steven
Gerrard,hingga Michael Carrick. Dari nama-nama yang sudah disebutkan di
atas kita tahu bahwa inggris memiliki barisan gelandang tengah yang
berkualitas.

Menurut game Football Manager, biasanya
sektor gelandang tengah ini dibagi menjadi tiga gaya bermain. Pertama
DMF / Diffensive Midfielder yang merupakan gelandang bertahan yang
berfungsi sebagai pertahanan pertama sebelum di lini pertahanan. Contoh
nyatanya bisa kita lihat pada sosok Gareth Barry yang memiliki statistik
tekel dan intercept terbanyak di Manchester City atau bisa kita lihat
juga pada diri Scott Parker. Namun seiring berjalanya waktu taktik pun
berevolusi sehingga kadangkala pemain yang menempati posisi ini bisa
berubah menjadi seorang deep lying playmaker. Pada saat ini di Inggris,
peran ini mirip seperti yang diemban oleh Michael Carrick. Pemain yang
disebut-sebut sedang dalam performa terbaik sepanjang karirnya ini
menurut situs Whoscored.com memiliki rata-rata passing akurat sebesar
87,9% hanya berbeda tipis dengan metronome Italia Andrea Pirlo.

Berikutnya adalah CMF / Central Midfielder
yang merupakan posisi natural di tengah. Namun di posisi ini dituntut
pemain yang memiliki keseimbangan antara bertahan dan menyerang. Contoh
nyata ada pada diri Steven Gerrard. Statistik Stevie G menyebutkan ia
melakukan jumlah tekel terbanyak diantara pemain tengah Liverpool lainya
dan mengancam gawang lawan sebanyak 62 kali.

Terakhir ada AMF / Attacking Midfielders.
Gelandang bertipe agresif yang menjadi bantuan bila barisan penyerang
mengalami kesulitan. Tidak jarang juga gol-gol lahir dari pemain di
posisi ini. Frank Lampard bisa disebut sebagai contoh yang bisa dibilang
sempurna di posisi ini. Tendangan keras kedua kaki yang memiliki
akurasi tinggi,kemampuan menahan bola,serta visi dalam memberikan key-pass
dikuasai dengan oleh kapten kedua Chelsea ini. Bahkan tak jarang
Lampard membuat gol dengan sundulan kepala. Sepupu dari Jamie Redknapp
ini tercatat sebagai gelandang tersubur kedua di timnas Inggris dengan
27 gol dibawah Sir Bobby Charlton. Untuk level klub catatan Lampard
lebih fantastis. Ia tercatat sebagai top skor kedua sepanjang masa tim
dengan total 197 gol dengan 136 diantaranya dibuat di liga,membuatnya
hanya tertinggal 5 gol dari Bobby Tambling. Apabila digabung dengan
catatan semasa di West Ham, Frank Lampard sudah mencetak 161 gol di
liga. Membuatnya sebagai peringkat 5 gol terbanyak di EPL dan gelandang
tersubur.
Terlepas dari 3 pembagian peran gelandang
tengah di atas. Inggris memiliki bakat lain yang serbabisa. James Milner
contohnya, pemegang no.7 di Man.City ini dikenal sebagai gelandang
pekerja keras dan mampu tampil di berbagai posisi. Selain sebagai
DMF,CMF,dan AMF Milner juga fasih bermain di sektor sayap. Sosok Owen
Hargreaves juga bisa dibilang gelandang serbabisa. Meskipun memiliki
catatan cedera yang hampir menyamai torehan penampilanya, mantan
gelandang Bayern Muenchen ini mampu bermain sebagai bek sayap baik kiri
atau kanan.

Kita sendiri tahu bahwa
Lampard,Gerrard,Barry,dan Carrick sudah berusia diatas 30 tahun. Bisa
diyakini bahwa tahun mendatang permainan mereka sudah tak segermelap
saat mudanya. Tetapi Roy Hodgson selaku manajer timnas Inggris tidak
perlu risau. Sudah muncul beberapa nama yang siap mengorbit di jajaran
tim utama Inggris seperti Jack Wilshere dan Tom Cleverley. Serta jangan
lupakan peran para gelandang singa muda u-21 semacam duo Liverpool
Jordan Henderson daan Jonjo Shelvey. Hingga jangkar muda kepunyaan
Machester biru Jack Rodwell dan youngster Chelsea Josh McEahran.

Dengan melimpahnya barisan gelandang tengah
tak bisa dipungkiri lagi bahwa regenerasi timnas Inggris untuk posisi
ini sangat baik. Generasi demi generasi terus menghasilkan gelandang
berkualitas. Mungkin hanya nasib buruk saja yang selalu menghampiri
timnas Inggris hingga belum mampu berbicara banyak di kancah
antarnegara. Semoga dengan sederet gelandang masa depan ini, tim Inggris
mampu berbicara lebih banyak di ajang antarnegara yang akan datang atau
bahkan meraih titel Juara.
Generasi Emas Tanpa Gelar.
Apa yang ada di benak anda saat melihat
skuad tim yang berisi bintang-bintang tampil di suatu kejuaraan? Mereka
menjadi juara pastinya. Ekspektasi juara selalu diberikan publik kepada
tim yang disebut unggulan terkuat. Namun pepatah lawas tapi tetap eksis
di zaman modern ini bilang bahwa “bola itu bundar” semua hal bisa
terjadi di atas lapangan. Contoh paling mudah adalah Yunani menjuarai
EURO 2004. Tidak ada pihak yang yakin bahwa Yunani bisa berbicara banyak
di turnamen ini,apalagi menjadi juara. Akan tetapi kenyataan berkata
lain,permainan difensif mengandalkan serangan balik cepat ala Otto
Rehaggel membungkam khalayak dan membawa Yunani ke tahta Juara. Contoh
lain yang menyerupai adalah bagaimana Uruguay bisa mendobrak dominasi
Argentina dan Brazil di Copa America.

Hal serupa juga terjadi di benua Afrika.
Dilihat dari komposisi peserta dalam 2 penyelenggaraan Piala Afrika
terakhir, Pantai Gading disebut sebagai tim terkuat dibandingkan tim
lain dilihat dari aspek manapun. Tapi apa yang terjadi? Nigeria berhasil
mengalahkan Pantai Gading 2-1 pada perempat final piala Afrika 2013.
Banyak pihak yang terkejut akan hal ini terlebih saat melihat komposisi
skuad masing-masing tim. Hal ini menambah luka di catatan sejarah Pantai
Gading setelah mereka kalah tahun lalu dari Zambia di final melalui adu
penalti.

Banyak spekulasi timbul di pihak pengamat.
Mulai dari tim yang disebut arogan dan terlalu percaya diri,sampai ego
masing-masing pemain yang mengurangi kekompakan tim. Didier
Drogba,kapten sekaligus legenda hidup Pantai Gading berkata bahwa status
unggulan justru membebani tim,hal ini membuat tim lain menjadi tampil
ngotot saat menghadapi Pantai Gading. Hal ini diamini oleh Yaya
Toure,menurutnya tekanan untuk Pantai Gading menjadi berlipat ganda
dengan adanya ekspektasi publik ini sendiri.

Well, siapa yang
menyangka tim bermaterikan Drogba,Toure
bersaudara,Kalou,Zokora,Tiote,hingga sayap lincah Arsenal Gervinho bisa
tersingkir begitu cepat. Ditambah manager bernama Sabri Lamouchi yang
cukup sukses dalam karirnya sebagai pemain. Kegagalan Pantai Gading
memang tidak diprediksikan,tetapi ada beberapa faktor yang membuat
mereka gagal. Pertama,pemain bintang di Pantai Gading ini tergolong
sudah memasuki masa senja dalam karirnya. Drogba berumur 35 tahun pada
bulan maret mendatang. Kolo Toure,Didier Zokora,serta bek kiri PSG Tiene
berusia 32 tahun. Bahkan metronom Pantai Gading dan Man.City akan
berkepala 3 pada mei nanti. Bahkan Drogba pun berkata bahwa ini mungkin
menjadi Piala Afrika terakhirnya.
Kedua, nama-nama besar di Pantai Gading
berada di liga yang kurang kompetitif ataupun bukan pilihan utama di
klub masing-masing. Didier Drogba terakhir hanya bermain di liga China,
veteran lainya Didier Zokora berada di liga Turki,bahkan kiper utama
mereka Baubacar Barry hanya bermain di Liga Belgia. Dari daftar skuad
Pantai Gading sendiri, hanya liga Inggris yang bisa dianggap kompetitif.
Itupun Bek Utama mereka Kolo Toure hanya menjadi cadangan di Man.City
bersama pemain muda Abdul Razak.
Ketiga, faktor pelatih Sabri Lamouchi.
Meskipun bisa dibilang cukup sukses di karirnya sebagai pemain,tetapi
kebanyakan hanya berada di tim kualitas menengah. Selain itu kurangnya
kepengalaman dalam bidang kepelatihan membuat banyak pihak meragukan
kualitasnya dan itu terbukti dengan gagalnya Pantai Gading.
Keempat, faktor internal tim. Sepanjang membela Pantai Gading, Drogba telah mengikuti 5 piala Afrika dengan torehan 2 runners-up
,2 perempat final,dan sekali Juara ke-4. Namun dalam tiap
keikutsertaan. Timnas Pantai Gading selalu dipimpin manager yang
berbeda. Faktor perubahan taktik yang terlalu sering,kurang klop-nya manager dengan pemainya terjadi karena imbas dari seringnya Pantai Gading berganti manager.

Dengan usia para generasi emas Pantai Gading
yang sudah berusia diatas kepala 3. Tak bisa dipungkiri bahwa ini
mungkin saja menjadi turnamen terakhir mereka di kancah tim nasional.
Miris melihat fakta yang terjadi,tapi itulah sepakbola. Status bintang
hanya membuat tim yang mereka bela menjadi unggulan bukan menjadi Juara.
Semoga generasi Pantai Gading berikutnya yang dipimpin Salomon Kalou
dan Gervinho mampu mempersembahkan piala Afrika yang terakhir mereka
raih pada tahun 1992.
Ada Apa Dengan Real Madrid?

Performa tandang Madrid menjadi sorotan
menjadi sorotan. Dari 12 laga mereka mengalami 5 kali kekalahan,berbeda
dari musim lalu yang hanya 1 kali. Banyak pengamat mengaitkan hal ini
terhadap problem internal Madrid sendiri. Bertubi-tubi berita miring
mengenai ruang ganti Madrid terekspos media. Mulai dari awal musim saat
CR7 mengaku sedih, problem penjualan Kaka,hingga yang paling panas
tentang beberapa pemain yang memohon kepada Presiden klub agar manager
mereka Jose Mourinho dipecat.

Jose Mourinho memang menjadi fokus media
mengenai merosotnya performa Madrid dibandingkan musim lalu. Terutama
setelah keputusan kontroversialnya yang tidak memainkan Iker Casillas
waktu melawan Malaga. Isu santer yang berhembus memprediksikan bahwa Mou
akan kembali menangani Chelsea. Mou berdalih bahwa turnamen EURO 2012
tahun lalu memang menguras fisik para pemain-nya saat masa
pre-season,selain itu tekanan untuk mempertahankan performa seperti
musim lalu juga mempengaruhi mental tim. Terlebih semua tim melihat
Madrid sebagai sosok unggulan sehingga mereka semua berlomba-lomba untuk
menaklukan Juara terbanyak La Liga ini. Madrid sendiri pada awal paruh
musim kedua ini masih terkena krisis absenya pemain karena cedera dan
skorsing. Selain itu tuntutan untuk memberi gelar Liga Champions yang
ke-10 bagi Madrid mungkin membebani pikiran Mou sendiri.
Hal di atas mungkin hanya beberapa kasus yang
dianggap kaum jurnalis sebagai penyebab merosotnya performa Madrid
musim ini. Runtuhnya mental tim,dan ketidakpercayaan akan manager tim
juga imbas dari kasus tadi. Meskipun Presiden klub terus mengatakan
posisi Mou tetap aman,tapi bukan tidak mungkin bahwa Mou akan
meninggalkan Madrid suatu saat. Reputasi Mou yang dikenal sebagai
motivator handal dan dekat dengan pemain mengalami ujian berat saat
ini,terlebih saat ini Madrid akan melakoni jadwal yang kurang bersahabat
periode februari ini.
Prediksi Juara Liga Musim 2012/2013
Tahun 2013 sudah kita masuki, artinya
tahun kehidupan yang baru pun akan kita jalani. Tapi tidak dengan
sepakbola. 2013 bisa disebut sebagai fase penting bagi klub-klub eropa.
Terlebih pada awal sampai pertengahan tahun nanti., karena memasuki
paruh kedua musim yang merupakan fase kritis untuk perebutan juara liga
domestik masing-masing. Dengan berakhirnya paruh pertama,maka telah
lahir juga istilah juara paruh musim. Sebuah gelar tak resmi yang
disematkan kepada tim yang berhasil memimpin klasemen pada saat akhir
putaran pertama liga. Manchester United di Inggris, Barcelona di
Spanyol, Juventus di Italia, Bayern Muenchen di Jerman, PSV Eindhoven
di Belanda, dan PSG di Perancis merupakan deretan juara paruh musim di
enam liga terbaik eropa. Mereka digadang-gadang pada akhir musim akan
menjadi juara liga,karena dilihat dari fakta sebagian besar juara paruh
musim akan menjadi juara pada akhirnya.

Pertama kita mulai dari tanah Ratu Elizabeth.
Seperti yang kita ketauhi saat ini Manchester United (MU) tengah
memimpin klasemen berbeda 7 poin dari “tetangga gaduh” mereka Manchester
City. Banyak pengamat sudah yakin bahwa MU akan mendapat gelar ke-20
mereka. Dilihat agresivitas mereka dalam mencetak gol, terlebih semangat
pantang menyerah mereka sampai menit akhir yang membuat mereka sering
disebut raja comeback. Sementara pesaing terdekat mereka City tengah
dirundung problem internal akibat kasus Mario Balotelli dan juga problem
mental juara yang belum terasah. Hal ini tercermin dari kegagalan
mereka di penyisihan grup Liga Champion tanpa meraih kemenangan. Di
bawah city ada 2 tim kota london yang mengejar Tottenham Hotspurs dan
Chelsea,namun kita ketauhi problem inkonsistensi menjadi masalah kedua
tim ini. Spurs memang akhir-akhir ini mampu meraih poin penuh tapi tetap
diragukan pada fase melawan tim-tim top. Sementara Chelsea masih belum
menemukan skema terbaik di tangan pelatih anyar mereka Rafael
Benitez,bahkan di partai terakhir mereka takluk dari juru kunci QPR 0-1
di kandang sendiri. Dengan banyaknya problem di pesaing mereka,apakah
benar MU akan menjadi juara? Bisa dibilang iya,tapi ada sanggahan bahwa
MU sendiri tidak lepas dari masalah. MU memang sering melakukan
comeback,tapi bukankah lebih mudah menang langsung tanpa perlu
mengeluarkan keringat lebih untuk mengejar selisih gol dan membuat sport
jantung bagi para fans? Lini belakang MU memang sangat rentan
kebobolan. Saat ini MU sudah kebobolan 28 kali. Catatan ini bahkan lebih
buruk dari saat MU juara liga tahun 2008. Selain problema lini
belakang, hal lain yang dapat mengganjal MU adalah periode bulan
februari dimana mereka akan mentas di ajang Liga Champion melawan
raksasa Spanyol Real Madrid dan dimulainya perjalanan di Piala FA. Bisa
diperkirakan konsentrasi MU akan terpecah pada 3 kompetisi dan rotasi
memegang peran inti dalam sisa perjalanan MU hingga Mei nanti. Pesaing
utama di liga sepertinya hanya city. Mereka memiliki skuad gemuk yang
berisi pemain ber-skill di atas rata-rata dan hanya fokus pada kompetisi
domestik ( Liga dan Piala FA ).
Dari tanah matador semua pengamat sudah
memastikan bahwa tampaknya Barcelona akan juara liga pada musim ini.
Start terbaik selama 15 tahun terakhir mereka lakoni (16 menang dan 1
seri) serta keunggulan 9 dan 16 poin dari duo Madrid, Atletico dan Real.
Dengan sudah pastinya Real Madrid mengalihkan fokus pada Liga Champion
dan Malaga di bawahnya yang masih inkonsisten. Bisa kita yakini bahwa
Atletico Madrid menjadi pesaing utama dalam tahta La Liga. Tapi dilihat
dari performa tim dan semakin “alien”-nya Lionel Messi, Barcelona bisa
dilihat tanpa cacat. Atletico sendiri bukanya tanpa perlawanan hanya
saja ini kali pertama sejak 13 tahun terakhir mereka menggeluti pacuan
menjadi juara liga. Mental yang belum terasah menjadi penghalang utama.
Jadi apakah pasti Barcelona menjadi juara? Kuncinya hanya pada mereka
sendiri. Dengan masih berpartisipasi di 3 kompetisi konsentrasi dan
rotasi tetap memegang peran kunci. Selain itu lawan utama Barcelona
tinggal diri mereka sendiri. Bagaimana mereka melawan ego mereka dan
tetap rendah diri. Hanya nasib sial seperti musim lalu yang mampu
mengagalkan mereka.
Pada Bundesliga Jerman, Bayern Muenchen berpeluang menjadi deuschermeister setelah
unggul 9 poin dari Bayer Leverkusen. Skuad merata,penampilan
konsisten,dan bebas dari kasus cedera menjadi faktor penguat lain untuk
menjadi juara. Terlebih Leverkusen masih dibayang-bayangi oleh juara
bertahan Dortmund. Tapi seperti kebanyakan klub eropa lainya,ujian bagi
Bayern akan tiba saat melakoni lanjutan Liga Champion melawan Arsenal
dan perjalanan di Piala Jerman. Namun hal ini juga terjadi pada
Leverkusen dan Dortmund. Sehingga bisa diprediksi tim yang nanti juara
Bundesliga ialah tim yang mampu membagi konsentrasi pada 3 ajang (2
domestik dan 1 eropa) dan mempertahankan performa terbaik mereka.
Pada
liga Belanda terjadi persaingan ketat antara 5 tim. PSV Eindhoven
selaku pemimpin klasemen dengan 40 poin hanya unggul selisih gol dari FC
Twente. Dibawah mereka juga ada 2 tim berpoin sama 37 yakni Ajax
Amsterdam dan Feyenoord disusul Vitesse Arnhem dengan 35 poin. Situasi
terberat menjadi milik Ajax dengan menjadi wakil tunggal liga Belanda di
kompetisi eropa. Problem pembagian konsentrasi menjadi penghalang
utama. Sementara kontestan lain tinggal memfokuskan perhatian mereka
pada kompetisi domestik. Yang paling diuntungkan adalah Twente,dengan
tersingkirnya mereka dari Piala Belanda dan kualifikasi Liga Europa
perhatina mereka bisa difokuskan pada Liga saja. Vitesse sendiri tengah
naik daun dengan bintang mereka asal Pantai Gading, Wilfried Bony. Tapi
dengan absenya bony ke Piala Afrika dan hasil buruk di akhir paruh musim
mereka sedikit diragukan untuk bersaing,tapi sebagai sekedar pengganggu
masih berpotensi.
Situasi
di Prancis lebih ketat lagi dimana 3 tim memimpin klasemen dengan poin
yang sama hanya dibedakan selisih gol, yakni PSG,Lyon,dan Marseille. PSG
dengan dukungan dana melimpah menjadi unggulan pertama dalam pacuan
menuju gelar juara. Skuad gemuk dengan materi bintang menjadi senjata
utama mereka. Problem hanya sindrom ketergantungan mereka akan
Ibrahimovic dan konsentrasi di Liga Champion. Kehilangan Ibra berdampak
besar pada PSG dimana mereka sempat 3 partai tidak menang dan hanya
meraih 1 poin saat Ibra absen skorsing. Lyon menjadi pesaing kuat,selain
tinggal memfokuskan diri pada kompetisi domestik mereka juga ingi
bangkit dan berjaya seperti periode 2002-2008 saat mereka 7 kali
beruntun menjadi juara. Marseille sendiri memang langganan papan atas
liga perancis terlebih mereka sendiri ingin menebus prestasi buruk
mereka musim lalu yang hanya finis di posisi 10.
Pada intinya problem utama dari semua tim
unggulan di liga masing-masing adalah pada pembagian konsentrasi ke
ajang eropa serta domestik lainya. Problem kelelahan dan cedera
menghantui mereka semua. Tak dapat disangkal, tim yang mampu
menanggulangi hal tersebut ialah yang mampu meraih gelar liga domestik
masing-masing. Selain itu kunci lain yang membuat tim juara ialah
konsistensi. Bagaimana tetap bermain di performa terbaik dan juga mampu
bereaksi di saat tim sedang tidak bagus.
Resolusi 2013 Real Madrid
Problem sempat muncul lagi saat mereka
meraih 3 hasil seri dari 4 pertandingan liga sehingga jarak dengan
Barcelona menipis hingga 4 poin. Terlebih pada saat hampir bersamaan
mereka disingkirkan raksasa Jerman Bayern Muenchen di semifinal Liga
Champions dalam drama adu penalti. Untungnya mental juara di tim bisa
benar-benar dikeluarkan sang manager Jose Mourinho. Beberapa hari
sesudah tersingkir, Real Madrid menjami Barcelona di Camp Nou pada
lanjutan La Liga. Banyak ramalan yang yakin Barca sendiri akan menang
dan menipiskan jarak ke 1 poin. Namun apa disangka, Real Madrid berhasil
menang dan menambah jarak hingga 7 angka dan terus meraih kemenangan
sampai menjadi Juara Liga dengan rekor 100 poin dan mencetak 121 gol.
Dengan prestasi gemilang pada kompetisi
sebelumnya,banyak pihak menjagokan Real Madrid mampu untuk
mempertahankan gelar mereka. Mengawali musim dengan baik dan meraih
trofi Piala Super Spanyol, pada akhir musim 2012/2013 “si putih” hanya
berada di tangga ke-3 klasemen di bawah rival abadi Barcelona serta
rival satu kota Atletico Madrid. Tak heran banyak orang yang heran
dengan keadaan Real Madrid tersebut. Berbagai masalah memang menghadang,
mulai dari kelelahan pemain,inkonsistensi dan cedera pemain, hingga
kasus bintang mereka CR7 yang merasa sedih dan kontroversi sang manajer
Mourinho.Melihat kondisi pada paruh akhir 2012 ini, harian olahraga
basis Spanyol as sampai membuat polling mengenai apa yang diharapkan para Madridista untuk tim kesayangan mereka di tahun 2013 ini.

Bisa kita lihat dari gambar di
atas,terdapat 12 tuntutan Madridista dan yang paling mereka inginkan
tentu saja gelar ke-10 (La Decima) Liga Champions,para fans sudah cukup
lama puasa melihat tim mereka mengangkat trofi termegah seantero Eropa.
Selain La Decima voting juga menunjukan bahwa mereka mendesak manajemen
untuk memperbarui kontrak CR7. Meskipun pada tengah paruh pertama musim
ini terjadi kontroversi tentang berita kesedihanya,tampaknya para fans
masih mencintai CR dilihat dari torehan 169 gol dari 170 partai yang
membuatnya menjadi pemain dengan rataan gol terbaik sepanjang sejarah
tim dari data yang ada.
Mengejutkan bila kita melihat hasil
voting berikutnya, para fans mendesak untuk mencari manajer baru
menggantikan Mourinho yang kurang disukai publik akibat tidak menurunkan
Iker Casillas pada partai pamungkas. Anehnya terdapat juga vote lain
yang ingin mempertahankan Mourinho. Kejadian ini juga terjadi pada kursi
presiden klub,Florentino Perez dituntut untuk mundur tapi ada sebagian
fans yang ingin mempertahankanya. Sisanya terlebih pada prestasi dan
permainan aktual Real Madrid sendiri. Mulai dari tuntutan bermain lebih
baik seperti musim lalu,sampai gengsi ibukota karena saat ini sedang
berada dibawah Atletico.
Para pemain pun juga turut menjadi
sasaran demikian juga sesi transfer. Kebanyakan fans ingin Real Madrid
membeli bomber tajam kolombia milik Atletico, Radamel Falcao. Perekrutan
ini dinilai bisa memperbaiki sisi ofensif tim dan menggerogoti kekuatan
Atletico sendiri. Selain itu fans juga mem-vote untuk lebih
memprioritaskan pemain asal Spanyol untuk didatangkan seperti David
Silva atau Fernando Llorente,tak lupa juga tuntutan untuk lebih memakai
pemain hasil binaan mereka sendiri (Castilla). Mereka tampak tak mau
lagi melihat “bekas” binaan mereka bersinar di klub lain seperti Juan
Mata,Negredo,dan Borja Valero. Terakhir, melihat susahnya untuk
mempertahankan trofi La Liga para fans ingin tim kesayangan mereka ini
untuk merengkuh trofi Piala Raja Spanyol. Kita tak tahu bagaimana musim
ini berakhir. Masih banyak jornada yang akan berlangsung dan banyak hal
yang bisa terjadi. Tapi sebagai Madridista sudah tentu mereka tak ingin
dikecewakan tim kesayangan mereka ini. HALA MADRID!
(referensi: tabloi bola no.2.448 serta as.com/real-madrid)
Sepakbola Amerika Serikat.

Bagaimana dengan sepakbola itu sendiri? Di
Amerika olahraga yang disebut-sebut paling terkenal di seantero dunia
ini kurang begitu terekspos, orang lebih memerhatikaN NBA dan football,
meskipun USSF (PSSI-nya Amerika) sudah berdiri sejak taun 1913 dan
bergabung dengan FIFA satu tahun kemudian. Sepakbola di Amerika sempat
menarik minat publik saat Legenda dari Brazil Pele bergabung bersama New
York Cosmos dan keluar dari masa semi-pensiun-nya.
Untuk ukuran Timnas, fakta sudah berbicara bahwa
Timnas wanita AS bergelimang prestasi berbeda dengan timnas
pria-nya,dengan menjadi juara Piala Dunia wanita 2 kali dan Medali emas
Olimpiade 4x. Timnas Pria AS sempat mencicipi juara ke-3 pada piala
dunia 1930,saat piala dunia pertama tersebut hanya diikuti oleh 13 tim.
Mereka kemudian lolos pada piala dunia 1934 serta 1950 tapi
nir-prestasi. Timnas AS baru mencicipi piala dunia lagi 40 tahun
kemudian tepatnya pada Piala dunia 1990 di Italia dimana mereka
tersingkir langsung pada penyisihan grup. Hal ini mendorong beberapa
pihak untuk mendongkrak prestasi Timnas AS.

Maka pada tahun 1992 ketua USSF pada saat itu
Alan Rothenberg yang kebetulan juga ketua pelaksana Piala Dunia 1994 di
AS memprakarsai rencana untuk mendongkrat prestasi Timnas AS. Rencana
ini kemudian dikenal dengan Rothenberg’s Plan. Plan ini berujung pada 2
hal. Pertama mereka akan menghasilkan uang dari penyelenggaraan Piala
Dunia 1994, lalu dari uang itu mereka akan membuat liga sepakbola
profesional. Selain itu mereka juga melakukan proses naturalisasi untuk 3
pemain bintang yang memiliki keturunan Amerika. Roy wagerle (keturunan
Afrika Selatan) yang saat itu bermain di klub inggris Coventry City,
Thomas Doole (Jerman) bermain di Bayer Leverkusen, serta yang terkenal
Ernie Stewart si pencetak gol terbanyak liga belanda. Selain
naturalisasi mereka juga mengontrak pelatih berkelas pada sosok Bora
Milutinovich. Hasilnya? Amerika Serikat lolos dari penyisihan grup
meskipun tersingkir di babak selanjutnya dari Brazil.

Pada saat bersamaan, Rothenberg memiliki visi
kedepan untuk Timnas AS. Ia merekrut seorang Carlos Quiroz untuk membuat
rencana pengembangan pemain muda timnas AS dengan membuat ODP (Olympic
Development Program) yang merupakan cara Amerika untuk menjaring pemain
muda berbakat dari masing-masing negara bagian. Pada tahun 1993,sebagain
bagian proyek untuk Piala Dunia, Rothenberg mendirikan MLS (Major
League Soccer) sebuah badan liga sepakbola profesional tertinggi di
Amerika.

Sesudah MLS ter-realisasikan, USSF membuat lanjutan program untuk
pengembangan pemain muda yang dinamakan Project 40 yang disponsori
Adidas. 40 pemain muda berbakat boleh menangguhkan kuliah mereka,dan
berkesempatan untuk magang di Tim MLS maupun Eropa. ke-40 pemain yang
sudah masuk dalam program ini akan diklasifikasikan sebagai pemain
profesional,sehingga mereka tidak bisa bermain di tingkat universitas.
Sebagai ganti rugi dari program ini, USSF akan mendanai biaya kuliah
untuk para pemain yang gagal menjadi pemain pro. Kesuksesan dari program
ini dapat kita lihat dari kondisi timnas AS saat ini dimana ada
beberapa lulusan Project 40 yang menjadi pilar timnas AS. Seperti Tim
Howard,Edson Buddle,Omar Gonzalez sampai yang paling terkenal seperti
Landon Donovan dan Clint Dempsey.

Terlepas dari kegagalan mereka di Piala Dunia
98, timnas AS mampu melaju hingga perempat final piala dunia 2002 serta 4
kali menjuarai Piala Emas CONCACAF. Timnas AS saat ini dinilai cukup
memiliki potensi untuk bertarung dengan tim-tim kuat lainya. Dilihat
dari banyaknya kondisi Timnas dan pemain AS yang bermain di Liga
Eropa,Rothenberg’s plan bisa dibilang sukses.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar